VISI

Mewujudkan Museum sebagai pelestari nilai sejarah dan budaya sesuai dengan budaya yang islami.

MISI

1. Menjadikan Fungsi Museum sebagai sarana pelestari benda, struktur bangunan, situs dan kawasan cagar budaya;
2. Mengfungsikan Museum sebagai sarana penelitian, pendidikan, pengembangan nilai-nilai positif yang terkandung dalam cagar budaya;
3. Mengoptimalkan potensi Museum sebagai salah satu sarana pengembang sumber daya kearifan lokal, seperti pariwisata, kreativitas seni, pengajaran dan sebagainya melalui kegiatan-kegiatan interaktif, edukasif yang berkesinambungan.

 

sejarah Singkat Kota Langsa

Kota Langsa adalah salah satu Kota di Aceh, Indonesia. Terletak diwilayah Timur Provinsi Aceh, Kota Langsa berada kerang lebih 430 km dari Kota Banda Aceh. Kota Langsa sebelumnya ber status Kota Administratif sesuai dengan peraturan Pemerintah Nomor 64 Tahun 1991 tentang pembentukan Kota Administratif Langsa. Kota Administratif langsa diangkat statusnya menjadi Kota Langsa berdasarkan Undang-undang Nomor 3 tanggal 21 Juni 2001. Hari jadi kota Langsa ditetapkan pada tanggal 17 Oktober 2001. Pada awal terbentuknya Kota Langsa terdiri dari 3 kecamatan yaitu Kecamatan Langsa Barat, Kecamatan Langsa Kota dan Kecamatan Langsa Timur dengan jumlah Desa sebanyak 45 Desa (Gampong) dan 6 Kelurahan. Kemudian dimekarkan menjadi 5 kecamatan Berdasarkan Qanun Kota Langsa No 5 Tahun 2007 tentang Pembentukan Kecamatan Langsa Lama dan Langsa Baro.

Dalam perspektif “Oral traditional”, Kata Langsa berasal dari pertikaian antara Kerajaan Elang dan Kerajaan Angsa dalam memperebutkan dan mempertahankan wilayah teritori guna memperoleh ikan, hingga terjadi peperangan sebanyak dua kali yang berakhir dengan gencatan senjata serta perundingan tersebut mereka namakan dengan nama “Langsar” atau elang besar dan kemudian menjadi kata Langsa pada saat ini.

Didalam “arakatatarumbo” (silsilah keturunan Ulee Balang raja Negeri Langsa), pebdiri Negeri Langsa adalah Datuk Alam Malelo yang konon masih berketurunan kerajaan pagaruyung Minangkabau Sumatra Barat. Yang diperkirakan hidup antara tahun 1700 M sampai dengan nama “Teuku Chik Keujruen Meulila” atau “Teuku Chik Keujruen Banang atau Datuk Banang alias “Datoe Dajang” oleh Belanda.

 

Sejarah Gedung Museum

Gedung Balee Juang merupakan gedung peninggalan Belanda yang terletak di Kota Langsa, gedung ini dulunya digunakan sebagai kantor perusahaan perkebunan dan sempat menjadi kantor Bappeda Aceh Timur.

Kota Langsa merupakan salah satu daerah yang menjadi saksi bisu atas kolonialisme Belanda di tanah Serambi Mekkah. Letak geografis Kota Langsa yang sangat strategis, serta berbatasan langsung dengan Selat Malaka membuat Belanda menjadikan kota ini sebagai basis pemerintahan khususnya di Aceh. Sisas-sisa sejarah tersebut kini masih bisa dilihat di Gedung Balee Juang Kota Langsa.

Gedung Balee Juang merupakan bangunan peninggalan Belanda yang didirikan sekitar tahun 1920. Kini setelah Indonesia merdeka, gedung ini menjadi salah satu tempat wisata sejarah di Kota Langsa. Memiliki gaya arsitektur yang menarik khas Eropa, menjadikan daya tarik tersendiri bagi para wisatawan. Tak hanya itu, kisah sejarah yang melatar belakangi gedung ini juga menarik untuk disimak.

Fasilitas Museum

Berikut beberapa fasilitas yang tersedia pada Museum Kota Langsa

Tempat Parkir

Mushala

Ruang Tunggu

Ruang Koleksi

Ruang Audio

Ruang Maintenance

Ruang Informasi

Toilet

Struktur Organisasi Museum

Galeri

Dokumetasi kegiatan hasil kunjungan

Hubungi Kami

Silahkan kirim beberapa pertanyaan kepada kami.

Address: Jl. Teuku Amir Hamzah, Matang Seulimeng, Langsa Barat, Kota Langsa, Aceh 24355

Phone: +62 641 0000